meski hanya punya uang Rp8000 tapi ku menikmatinya denganmu, aku lebih bangga menikmati hasil jerih payahmu sendiri ketimbang uang milik orang tuamu. kuingin menikmati segalanya denganmu, tidak hanya kesenenangan dan kebahagiaan, tetapi juga merasakan asam dan pahitnya kesengsaraan hanya denganmu...
aku lebih menghargai keadaan seperti itu agar aku dapat belajar dengan baik tentang asam manis kehidupan. tak hanya soal mmateri! tapi juga mental... aku ingin menghadapi segala kesulitan yang membentang dihadapan kita. tidak hany pujian, tetapi juga celaan dan hinaan. aku akan selalu berada disampingmu untuk membela dan menyemangatimu, bahwa segala macam cacian dan hinaan yang dikatakan orang tak lebih adalah cerminan ketidak mampuan orang tersebut akan dirimu.
ya ALLAH!! jadikan dia jodohku dan imamku dimasa yang akan datang! aku hanya menginginkan sebuah keluarga lengkap kecil yang lengkap dan sehat untuk masa depanku nanti. memiliki anak yang sehat dan sempurna baik fisik dan akhlaknya, dan keluarga besar yang slalu mendukung keluarga kecilku!!! serta jalan keluargaku untuk selalu berada di tujuanMu ya ALLAH!!
AMIN!
Notes: sebuah impian kecil dan sederhana yang sangat sulit untuk dicapai!!
Sabtu, 25 Juni 2011
Jumat, 24 Juni 2011
coba-coba bikin cerpen
berawal dari ssebuah kesalahan yang sangat fatal yg lara lakukan ...
mengakibatkan beberapahasil yang sangat jauh dia harapkan....
mungkin pengalaman hidupnya ini sangat tidak bisa dikatakan ringan...tapi lara berusaha untuk tetap mengangkat dagu dan berjalan apa adanya...
disaat malam lara pulang ke rumah dengan mengenakan jaket hitaam milik temannya dan membawa sebuah buku kuliah berwarna kuning, lara memasuki pintu masuk rumahnya...
di bangku telah duduk ibu dan kakaknya yang tengah menangis, kebingungan membludak di benaknya, tapi lara berusaha untuk tidak berpikir negatif...tapi ternyata lara salah, semuanya ada hubungannya dengan dirinya..
lara malu dan takut apa yang akan terjadi selanjutnya, mendengar beberapa pilihan yang di berikan kepada lara, sebenarnya sangat sulit untuk diterima, lara hanya bisa berkata iya sambil menundukan kepala, sedangkan toni pun melakukan hal yang sama dengan lara.
akhirnya keputusan akhir telah di tetapkan, lara harus membuangnya!!!
hari demi hari lara menjadi orang asing dirumahnya sendiri, dikucilkan oleh keluarganya sendiri. tapi hanya ada satu orang yang slalu ada disamping lara setiap saat dan slalu memeluknya dengan hangat dia adalah toni, meskipun pelukan itu tidak mengubah segalanya, tapi setidaknya dapat membuat lara sedikit bersandar di dekapannya..
dua hari setelah kejadian pengungkapan itu, lara dibawa ke sebuah rumah sakit di jakarta pusat, lara dan orang tuanya masuk ke pintu besar dan tua itu, di depan rumah sakit itu mereka di jegat oleh seorang pria bertubuh besar dan sedikit memaksa agar mereka mau mengukutinya, tapi mereka menghiraukannya...
didepan kasir mereka bertiga kebingungan harus kemana. tapi ada seorang pria yang mendekati mereka dan sepertinya dia mengerti apa yang mereka cari, lara hanya bisa duduk di kursi tunggu sementara mereka berdiskusi dengan alot.
setelah beberapa waktu, lara dan orang tuanya dibawa ke sebuah praktek dokter di daerah salemba, disana lara diperiksa oleh dokter pria yang sangat dingin pembawaannya, mendengar keterangan dokter tersebut, lara dan kedua orangtuanya sangat terkejut dan sangat tidak habis pikir atas apa yang terjadi dan jumlah uang yang sangta banyak yang harus di keluarkan.
setelah berdiskusi lagi, akhirnya bapak lara dan calo itu pergi sejenak mencari alternatif lain, sedangkan lara dan ibunya menunggu sebentar kabar dari bapak lara, setelah kurang lebih satu jam lara dan ibunya menunggu disebuah warung nasi yang berada tepat didepan rumah praktek itu, akhirnya mereka dijemput oleh calo yang ikut tadi pergi bersama bapak lara.
mereka berdua dijemput dengan menggunakan motor ke tempat praktek lain yang ada di daerah senen jakarta, disitu lara diperiksa oleh ibu-ibu berkerudung, setelah diperiksa beberapa saat, lara diminta keluar oleh ibu tadi, sementara orang tua lara dan ibu tadi bernegosiasi di dalam ruangan, setelah mencapai kesepakatan,akhirnya didapatkan keputusan bahwa lara harus membuang anaknya di tempat itu.
lara dibawa kesebuah ruangan yang terdapat peralatan kedokteran yang cukup lengkap, di ruang itu lara di tangani oleh 3 orang ibu-ibu sekaligus, termasuk ibu-ibu tadi yang berdiskusi dengan keddua orangtuanya. setelah melakukan proses pertama, lara dan orang tuanya diminta pulang dan kembali lagi keesokan harinya pukul 7 pagi.
dimalam hari lara sangat gelisah dan berurai air mata, sambil menelepon toni, dia menceritakan semua kegiatan nya hari itu, lara juga mengungkapkan seluruh isi hatinya dan apa yang dirasakan oleh tubuhnya saat itu. saat itu toni sedang bekerja, toni mengatakan bahwa dari tadi toni di ikutu oleh seorang anak kecil yang sangat lucu dan selalu tersenyum kepadanya, tapi anak kecil itu tiak nyata, ketika ditanya oleh kerabat toni yang memiliki indera keenam, ternyata anak itu adalah anak toni dan lara yang ternyata telah wafat di dalam kandungan lara akibat obat atau alat yang di masukan ke dalam alat vital lara di tempat tadi. lara pun mengatakan hal yang sam kepada toni, dia mengatakan bahwa di jam yang sama, lara seakan melihat seorang anak laki-laki kecil yang tersenyum manis kepadanya sambil mendekap guling kesayangan lara di tempat tidurnya disaat lara menelepon toni. anak itu mengatakan sebuah nama kepada lara, "deva! aku deva bunda!" hanya itu dan lara pun menangis tak henti-hentinya.
keesokan harinya, lara dan kedua orangtuanya kembali ketempat yang kemarin mereka datangi,.
sepanjang jalan lara hanya bisa terdiam sambil menutupi wajah dan matanya yang bengkak karena habis menangis semalam. sesampainya di tempat itu ada seorang pegawai tempat itu yang menunggu mereka, mereka langsung dibawa masuk ketempat kemarin tapi melului jalur pintu belakang, kemudian lara disuruh mengganti pakaian dan menunggu disebuah kamar yang telah disiapkan.
detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam berlalu dengan kesakitan yang luar biasa yang dirasakan oleh lara, ketika saat lara mengeluarkan anaknya dari rahimnya, lara seakan-akan sejenak berada disebuah ruang gelap yang hanya memiliki satu titik cahaya yang sangat mulia, mungkin itulah yang dinamakan antara hidup dan mati.
di dalam hati lara menangis dan sangat menyesali karena harus menuruti kemauan oranngtua dan keluarganya untuk membuang darah dagingnya hanya karena faktor MALU. tapi lara dan toni pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa untuk mendiang anaknya yang sudah berada di pangkuan ILLAHI ROBBI, lara dan toni sangat yakin bahwa deva, sudah tenang dan sangat gembira bersama teman-temannya yang tidak berdosa disana...
sebuah doa untuk deva dari bunda lara: "sayang! maafin bunda sama ayah ya nak! karena bunda sama ayah belum bisa merawat deva, tapi bunda dan ayah tahu. kalau deva pasti tahu dan yakin kalau ayah dan bunda sangat menyayangi deva dan menginginkan deva ada disini sama bunda. doa bunda dan ayah akan selalu menyertai deva disana sayang!! bunda dan ayah sayang dan cinta sama deva! slamat jalan anakku!!" (doa lara disetiap sholatnya)
notes: cerita diatas adalah karangan imajinasi saya saja, saya hanya ingin membagi cerita tentang karangan cerpen saya yang masih harus banyak belajar lagi. tentunya dari cerpen diatas saya membawa pesan tentang jangan pernah ada lagi peristiwa aborsi anak...
SAVE YOUR CHILDRENS... BECAUSE THEY ARE OUR FUTURES
mengakibatkan beberapahasil yang sangat jauh dia harapkan....
mungkin pengalaman hidupnya ini sangat tidak bisa dikatakan ringan...tapi lara berusaha untuk tetap mengangkat dagu dan berjalan apa adanya...
disaat malam lara pulang ke rumah dengan mengenakan jaket hitaam milik temannya dan membawa sebuah buku kuliah berwarna kuning, lara memasuki pintu masuk rumahnya...
di bangku telah duduk ibu dan kakaknya yang tengah menangis, kebingungan membludak di benaknya, tapi lara berusaha untuk tidak berpikir negatif...tapi ternyata lara salah, semuanya ada hubungannya dengan dirinya..
lara malu dan takut apa yang akan terjadi selanjutnya, mendengar beberapa pilihan yang di berikan kepada lara, sebenarnya sangat sulit untuk diterima, lara hanya bisa berkata iya sambil menundukan kepala, sedangkan toni pun melakukan hal yang sama dengan lara.
akhirnya keputusan akhir telah di tetapkan, lara harus membuangnya!!!
hari demi hari lara menjadi orang asing dirumahnya sendiri, dikucilkan oleh keluarganya sendiri. tapi hanya ada satu orang yang slalu ada disamping lara setiap saat dan slalu memeluknya dengan hangat dia adalah toni, meskipun pelukan itu tidak mengubah segalanya, tapi setidaknya dapat membuat lara sedikit bersandar di dekapannya..
dua hari setelah kejadian pengungkapan itu, lara dibawa ke sebuah rumah sakit di jakarta pusat, lara dan orang tuanya masuk ke pintu besar dan tua itu, di depan rumah sakit itu mereka di jegat oleh seorang pria bertubuh besar dan sedikit memaksa agar mereka mau mengukutinya, tapi mereka menghiraukannya...
didepan kasir mereka bertiga kebingungan harus kemana. tapi ada seorang pria yang mendekati mereka dan sepertinya dia mengerti apa yang mereka cari, lara hanya bisa duduk di kursi tunggu sementara mereka berdiskusi dengan alot.
setelah beberapa waktu, lara dan orang tuanya dibawa ke sebuah praktek dokter di daerah salemba, disana lara diperiksa oleh dokter pria yang sangat dingin pembawaannya, mendengar keterangan dokter tersebut, lara dan kedua orangtuanya sangat terkejut dan sangat tidak habis pikir atas apa yang terjadi dan jumlah uang yang sangta banyak yang harus di keluarkan.
setelah berdiskusi lagi, akhirnya bapak lara dan calo itu pergi sejenak mencari alternatif lain, sedangkan lara dan ibunya menunggu sebentar kabar dari bapak lara, setelah kurang lebih satu jam lara dan ibunya menunggu disebuah warung nasi yang berada tepat didepan rumah praktek itu, akhirnya mereka dijemput oleh calo yang ikut tadi pergi bersama bapak lara.
mereka berdua dijemput dengan menggunakan motor ke tempat praktek lain yang ada di daerah senen jakarta, disitu lara diperiksa oleh ibu-ibu berkerudung, setelah diperiksa beberapa saat, lara diminta keluar oleh ibu tadi, sementara orang tua lara dan ibu tadi bernegosiasi di dalam ruangan, setelah mencapai kesepakatan,akhirnya didapatkan keputusan bahwa lara harus membuang anaknya di tempat itu.
lara dibawa kesebuah ruangan yang terdapat peralatan kedokteran yang cukup lengkap, di ruang itu lara di tangani oleh 3 orang ibu-ibu sekaligus, termasuk ibu-ibu tadi yang berdiskusi dengan keddua orangtuanya. setelah melakukan proses pertama, lara dan orang tuanya diminta pulang dan kembali lagi keesokan harinya pukul 7 pagi.
dimalam hari lara sangat gelisah dan berurai air mata, sambil menelepon toni, dia menceritakan semua kegiatan nya hari itu, lara juga mengungkapkan seluruh isi hatinya dan apa yang dirasakan oleh tubuhnya saat itu. saat itu toni sedang bekerja, toni mengatakan bahwa dari tadi toni di ikutu oleh seorang anak kecil yang sangat lucu dan selalu tersenyum kepadanya, tapi anak kecil itu tiak nyata, ketika ditanya oleh kerabat toni yang memiliki indera keenam, ternyata anak itu adalah anak toni dan lara yang ternyata telah wafat di dalam kandungan lara akibat obat atau alat yang di masukan ke dalam alat vital lara di tempat tadi. lara pun mengatakan hal yang sam kepada toni, dia mengatakan bahwa di jam yang sama, lara seakan melihat seorang anak laki-laki kecil yang tersenyum manis kepadanya sambil mendekap guling kesayangan lara di tempat tidurnya disaat lara menelepon toni. anak itu mengatakan sebuah nama kepada lara, "deva! aku deva bunda!" hanya itu dan lara pun menangis tak henti-hentinya.
keesokan harinya, lara dan kedua orangtuanya kembali ketempat yang kemarin mereka datangi,.
sepanjang jalan lara hanya bisa terdiam sambil menutupi wajah dan matanya yang bengkak karena habis menangis semalam. sesampainya di tempat itu ada seorang pegawai tempat itu yang menunggu mereka, mereka langsung dibawa masuk ketempat kemarin tapi melului jalur pintu belakang, kemudian lara disuruh mengganti pakaian dan menunggu disebuah kamar yang telah disiapkan.
detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam berlalu dengan kesakitan yang luar biasa yang dirasakan oleh lara, ketika saat lara mengeluarkan anaknya dari rahimnya, lara seakan-akan sejenak berada disebuah ruang gelap yang hanya memiliki satu titik cahaya yang sangat mulia, mungkin itulah yang dinamakan antara hidup dan mati.
di dalam hati lara menangis dan sangat menyesali karena harus menuruti kemauan oranngtua dan keluarganya untuk membuang darah dagingnya hanya karena faktor MALU. tapi lara dan toni pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa untuk mendiang anaknya yang sudah berada di pangkuan ILLAHI ROBBI, lara dan toni sangat yakin bahwa deva, sudah tenang dan sangat gembira bersama teman-temannya yang tidak berdosa disana...
sebuah doa untuk deva dari bunda lara: "sayang! maafin bunda sama ayah ya nak! karena bunda sama ayah belum bisa merawat deva, tapi bunda dan ayah tahu. kalau deva pasti tahu dan yakin kalau ayah dan bunda sangat menyayangi deva dan menginginkan deva ada disini sama bunda. doa bunda dan ayah akan selalu menyertai deva disana sayang!! bunda dan ayah sayang dan cinta sama deva! slamat jalan anakku!!" (doa lara disetiap sholatnya)
notes: cerita diatas adalah karangan imajinasi saya saja, saya hanya ingin membagi cerita tentang karangan cerpen saya yang masih harus banyak belajar lagi. tentunya dari cerpen diatas saya membawa pesan tentang jangan pernah ada lagi peristiwa aborsi anak...
Langganan:
Postingan (Atom)